Postingan

Islam dan Masyarakat Sumatera Barat yang Inklusif

 Tulisan (berikutnya) tentang Islam di Minangkabau terpaksa saya tulis lebih cepat. Ini karena tulisan saya sebelumnya berjudul Kelompok Islam Radikal di Minangkabau, Bagaimana Langkahnya?  di Harakatuna.com dikhawatirkan akan dipelintir oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga akan menimbulkan penafsiran yang keliru dan menimbulkan sebab yang tidak diinginkan. Selanjutnya apa pun penafsiran di luar daripada tulisan ini bukan lagi menjadi tanggung jawab saya.        Sebelumnya saya berbicara soal akar sejarah gerakan fundamentalisme agama di Minangkabau dan indikasi akan penguatan kembali di era saat ini. Faktornya adalah inklusifitas Minangkabau itu sendiri yang telah lama menjadi arena pertarungan ide dan kondisi politik di mana dalam 15 tahun terakhir, yang menjadi pemimpin adalah kelompok yang begitu cenderung ke arah kebijakan-kebijakan agamis. Dikhawatirkan kebijakan-kebijakan ini, dan saya kira inilah yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok-k...

Korupsi: Korupsi Setelah UU KPK Terbaru

Ketakutan Menjadi Nyata Masih segar dalam ingatan menjelang akhir tahun 2019 lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu isu yang paling disorot. Penyebabnya adalah revisi undang-undang nomor 30 tahun 2002 tentang komisi pemberantasan korupsi. Ada beberapa hal yang paling mendapatkan perhatian pada naskah revisi tersebut; di antaranya adalah lembaga KPK berada di bawah rumpun ejksekutif yang menjadikan KPK bukan lagi komisi yang independen (pasal 3 RUU KPK), keberadaan dewan pengawas (pasal 37 A-G RUU KPK), waktu penyelidikan sebuah kasus korupsi yang dipangkas cuma dua tahun (pasal 40 RUU KPK), izin tertulis dewan pengawas (pasal 12 RUU KPK). Selain itu pengesahan revisi undang-undang KPK terkesan terburu-buru, hanya dalam tiga belas hari pembahasan revisi undang-undang KPK ketok palu. Lagi, tanpa melibatkan KPK sama sekali. Maka wajar jika dari pihak internal KPK memberikan kecaman terhadap proses legislasi tersebut. Di luar internal KPK juga terlontar nada...
Meninjau ulang idealisme Nama: Daniel Osckardo Tulisan ini berangkat dari wejangan seorang senior ketika diskusi di sekretariat PC IMM Kota Padang saat kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan oleh PK IMM Kasman singodimedjo. Beliau bilang "Sangat sulit untuk mencari aktivis idealis saat ini, kebanyakan yang ada adalah aktivis pragmatis". Saya mengaminkan kalimat ini. Tapi tidak tertutup kemungkinan untuk dibawa ke ranah dialektis. Maka tulisan ini, akan memberikan sebuah pandangan umum untuk memasuki idealisme. Idealisme diartikan sebagai sebuah sikap menyakini akan sebuah nilai yang dianggap benar. Generasi awal bangsa ini kita kenal nama Tan malaka, Soe hok gie, ahmad wahib (tanpa menafikan puluhan atau bahkan ratusan nama tokoh lainnya). Ketiga ini memiliki persamaan:idealis. Ketiganya juga sama-sama diasingkan, dikucilkan. Tan malaka, setelah pulang dari pelariannya yang lebih dari 20 tahun itu, harus bersembunyi-sembunyi ketika pulang ke negerinya send...