Meninjau ulang idealisme
Nama: Daniel Osckardo


Tulisan ini berangkat dari wejangan seorang senior ketika diskusi di sekretariat PC IMM Kota Padang saat kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan oleh PK IMM Kasman singodimedjo. Beliau bilang "Sangat sulit untuk mencari aktivis idealis saat ini, kebanyakan yang ada adalah aktivis pragmatis". Saya mengaminkan kalimat ini. Tapi tidak tertutup kemungkinan untuk dibawa ke ranah dialektis. Maka tulisan ini, akan memberikan sebuah pandangan umum untuk memasuki idealisme.

Idealisme diartikan sebagai sebuah sikap menyakini akan sebuah nilai yang dianggap benar. Generasi awal bangsa ini kita kenal nama Tan malaka, Soe hok gie, ahmad wahib (tanpa menafikan puluhan atau bahkan ratusan nama tokoh lainnya). Ketiga ini memiliki persamaan:idealis. Ketiganya juga sama-sama diasingkan, dikucilkan. Tan malaka, setelah pulang dari pelariannya yang lebih dari 20 tahun itu, harus bersembunyi-sembunyi ketika pulang ke negerinya sendiri. Dimusuhi oleh rezim, dan mati di tangan bangsanya sendiri. Soe hok gie, pemuda yang begitu lantang juga harus rela berjalan sendiri. Wahib, yang hidup di tengah masyarakat yang kental agama, malah menyangsikan keyakinan itu sendiri. Tapi walau dikucilkan, diasingkan, dan dimusuhi, mereka tetap berpegang pada nilai-nilai tersebut. Itulah yang kita namai idealisme!

Kita akan berkutat perihal ketiga tokoh ini. Tan bilang "Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda". Gie bilang "lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan". Wahib bilang "aku baru mengenal islam dari hamka, syahrir, buku-buku, ulama-ulama, namun aku belum mengenal islam dari pemiliknya sendiri". Ini mengindikasikan suatu idealisme murni.

Namun tentunya kita tidak mau untuk terperangkap di masa lalu. Tidak cukup persoalan kagum atas mereka. Layaknya kita perlu membawa idealisme tersebut di masa sekarang. Idealisme itu harus hidup di kepala-kepala pemuda. Tetapi mari kita ajukan pertanyaan, apakah pemuda masih memilikinya sekarang?. Saya akan berdiri di pihak yang meragukan hal tersebut. Karena memang pragmatisme telah mengangkangi idealisme.

Ketika kita bicara idealis, kita bicara kebenaran (atau yabg diyakini benar). Walaupun terkadang memang bersifak subyektif. Seorang yang idealis kita cirikan sebagai orang yang kokoh pendirian, tidak mudah dipengaruhi, dan berbuat di atas nilai yang diyakini benar tersebut. Seorang idealis akan mengatakan benar itu benar dan salah itu salah. Orang seperti ini tidak terikat oleh-sebutlah- organisasi mereka. Artinya apa, disaat 'kendaraan' mereka tersebut berada di jalur yang tidak tepat atau dikemudikan ke arah yang tidak sesuai. Mereka akan berdiri menentang gerak organisasi tersebut (meskipun organisasi mereka sendiri). Meskipun akan dimusuhi oleh sesama. Dari mahasiswa yang seperti inilah bisa diharapkan sebuah pandangan yang murni. Mahasiswa seperti inilah yang dapat memberikan sumbangan ide progresif bukan posesif. Dan mendatangkan sebuah perubahan. Ketika seorang mahasiswa bilang dia idealis namun kenyataannya tidak dapat merdeka dari sekat dan segala kepentingan yang ada. Maka dia sedang berbual.

Gie bilang " Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas dasar-dasar prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama ormas, agama, atau golongan apapun". Pertama, keyakinan dalam idealisme adalah kepada kebenaran objektif. Kedua, pertanyaan mendasar masih adakah mahasiswa yang bersikap seperti ini?. Santai, petik rokok saudara dan seduh kopi saudara. Lalu, jawab sendiri.

Sering kali mahasiswa terjebak dalam ranah politis. Terutama dalam tatanan praktis. Apapun motifnya, bisa kita sebutkan dalam satu istilah: politik. Dalam politik, tersingkap berbagai hal. Kekuasaan dan material. Pada ruang inilah idealisme sering kali tergadaikan. Sehingga muncul istilah idealis-realistis. Idealis-realistis bermakna bersikap idealis sesuai pada tempatnya. Ini merupakan pernyataan paradoks. Bagaimana mungkin seseorang bisa idealis di satu sisi, dan ambisius terhadap kepentingan di sisi lain?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Islam dan Masyarakat Sumatera Barat yang Inklusif